Pinned Tweet
Dalam 4 pertandingan terakhir, Inter berhasil meraih 2 kemenangan, 1 hasil imbang, dan sekali menelan kekalahan. Uniknya, dalam 4 pertandingan tersebut, Inter selalu kebobolan 2 gol lebih dulu. Nah, sa mencoba membaca fenomena itu lebih jauh dan sa jelaskan lewat #AnalisisSotoy
Inter bermain dengan garis pertahanan tinggi + melebar. Milan bermain lebih ke belakang + lebih sempit yang membuat sesak area kotak penalti mereka.
Ibarat tinju, Milan double cover dan Inter mukulin cover itu. Ini bukan cuma soal skor, tapi soal seberapa efektivitas cara main?
Hampir selalu kesulitan melawan tim besar atau tim yang berani main agresif dan berkali-kali berada dalam posisi tertinggal sampai mesti "didorong" oleh pemain-pemain pengganti, buat saya, adalah sebuah indikator bahwa strategi Chivu belum match betul dengan skuat Inter.
Garis pertahanan tinggi bukan cuma waktu nyerang, tapi mindset ketika bertahan. Pada proses gol pertama Milan, cuma 5 orang pemain belakang Inter yang bertahan, 3 di antaranya duel di depan gawang vs 3 pemain Milan. 4 gelandang Inter ga ikut nutup di area depan gawang.
Replying to @InteristaLK
Kok gw gak melihat ini jadi kesalahan ya semalem? Karena terlepas dari 3 gol itu, Milan praktis gak ada peluang lain, dan 3 gol tersebut jg tidak diawali garis pertahanan yang tinggi.
Di babak kedua, Inter memulai serangan dari depan kotak penalti Milan. Ruang untuk lari kecil sekali. Sementara itu, Milan menyerang dari depan kotak penalti mereka sendiri. Ruang untuk adu lari jauh lebih luas.
Formasi coba-coba versus rival. Ga adaptif dan mesti nunggu menit ke-80 untuk ganti formasi. Hari ini Chivu medioker sekali.
Selamat, Bang. Jele banget mainnya.
Replying to @InteristaLK
Lo internisti yang paling waras setelah masbud min, meskipun lo pake pp jordan nangis njir. Yang laen pada asbun dan kocak2. Thanks mimin ganteng.
Alih-alih mengubah formasi yang ga works di awal babak kedua, Chivu memilih menggunakan Bonny dan Pio sebagai pertaruhan all out attack di 10 menit akhir.








