
ALT Krisis Moral dan Bayang-Bayang Dostoevsky di Chiikawa The Movie (2026) Sebuah refleksi tentang dosa, hukuman, dan moralitas dalam Chiikawa the Movie: The Secret of Mermaid Island Artikel oleh Raihan Khairunnisa, bisa diakses melalui tautan https://raihankhairunnisa.substack.com/p/chiikawa-the-movie-dostoevsky-dilema-moralitas-dan-dosa

ALT Kejahatan yang lahir dari alasan yang manusiawi pun tetaplah sebuah kejahatan—tetaplah sebuah dosa; dan pelakunya dihukum untuk hidup dalam bayang-bayang rasa bersalahnya sendiri. Kutipan dari artikel "Krisis Moral dan Bayang-Bayang Dostoevsky di Chiikawa The Movie (2026)" oleh Raihan Khairunnisa.

ALT Yang bikin saya penasaran, film ini tetap terasa imut, lucu, dan manis dari sisi visual, tapi itu tidak menghalangi rasa tidak nyaman yang menempel lama setelah lampu bioskop menyala. Rasa unsettling semacam ini sepertinya bukan kebetulan, mengingat betapa akrabnya sastra Jepang dengan eksistensialisme. Dostoevsky sendiri punya jejak pengaruh yang panjang di sana. Penulis-penulis era Meiji dan Taisho menyerap gagasannya tentang batin manusia yang terpecah oleh rasa bersalah, dan warisan itu turun ke penulis-penulis modern lewat jalur yang beragam. Dazai Osamu, misalnya, membangun Ningen Shikkaku atau No Longer Human di atas fondasi kegelisahan eksistensial dan pengakuan dosa yang sangat dekat dengan gaya Dostoevsky. Edogawa Ranpo, yang nama penanya sendiri diambil dari Edgar Allan Poe, mengembangkan genre misteri psikologis yang tetap bergaung dengan preokupasi serupa soal kejahatan dan sisi gelap manusia.

ALT Kalau harus dikategorikan ke satu genre sastra Jepang, saya akan bilang Chiikawa the Movie paling dekat dengan iyamisu, subgenre misteri yang sengaja meninggalkan rasa tidak nyaman ketimbang kepuasan menuntaskan teka-teki. Iyamisu tidak terlalu peduli siapa pelakunya, fokusnya ada pada dampak psikologis sesudah kejahatan terjadi, pada karakter yang tidak sepenuhnya bisa dibenci atau dibela. Crime and Punishment sendiri sering disebut salah satu cikal bakal pola ini dalam sastra dunia—yaitu novel pembunuhan yang sama sekali tidak tertarik pada misteri whodunit dan lebih sibuk membedah batin pelakunya. Chiikawa the Movie mengambil pola yang sama, hanya saja dengan ambiguitas moral yang lebih rumit lagi, karena di sini bahkan korbannya, Siren, ikut berubah jadi pelaku lewat balas dendam yang salah sasaran.















































