Law of the Game retweeted
COPOT KAPOLDA WARUNG BABI‼️‼️‼️
NAMANYA: ROY HARDI SIAHAan
SEKELAS WARUNG BABI DIBAWA KE ISU SAMPAI TERORISME, EKSTREMISME
SEPERTINYA BELIAU ANAK DIDIK TOTOK DAN LSP
SIAL BENER RAKYAT JATENG DAPAT KAPOLDA SEPERTI INI.
TEMPAT KAMI AJA TAK TERPAKAI INI ORANG.
Law of the Game retweeted
Yg terhormat presidennya doang. Rakyatny mnderita. Singapura nundukkan diri, bentuk belain rakyatnya agar pasokan aman. Mrk sadar gak pnya SDA krn itu SDM digenjot jd yg trbaik di bidangny, tingkatkan kesejahteraan via jasa. Indo? Kaya SDA tp yg ngeruk oligarki & elit politik!.
Usai diUltimatum, Singapura langsung Sowan dan sungkem Ke King Indo "Prabowo"
Dulu ngelihat Singapura itu sepertinya kita minder banget, sekarang ada Presiden yang bikin Indonesia terhormat dan nekuk kepongahan negara tetangga ini.
KAMI BANGGA KEPADAMU PAK @PRABOWO!
Law of the Game retweeted
Replying to @PorosHalangID
Udah 2026 masih aja Sir Alex Sir Alex 😂
terlalu di Sir Alex kan
Law of the Game retweeted
Orang miskin dilarang nikah
Orang miskin dilarang punya anak
Kenapa ngga sekalian bilang,
Orang miskin dilarang ikut pemilu
Orang miskin dilarang memakai jalan umum
Orang miskin dilarang hidup
Sekalian aja
Replying to @stafsusthe2
Ga ada yg mencabut kok, gua setuju sama statement kakak yg itu karena ngeliat orang di sekitar, dan gua bilang kalo org yg pernah struggle begitu pasti lebih aware
Gua sendiri no prob klo ada yg mau nikah dalam keadaan miskin asal ga punya anak dulu
Law of the Game retweeted
Bengisnya jokowi,
Pilkada DKI ditiadakan dgn alasan covid. Untuk menjegal anies.
Tapi pilkada tetap diadakan ketika gibran dicalonkan jadi walikota.
Ini orang emg bengis.
Law of the Game retweeted
I think Gyokeres leaving Arsenal would be best for everyone. Arteta doesn’t like him. Keeps starting Havertz every GW
A player of this quality needs to play consistently and needs a manager that trusts him. He’s never getting that with Arteta. He needs to leave to enjoy his football again.
Law of the Game retweeted
When he makes front post run, they do a cut back
When he makes back post run, they play it front post
When sits back waiting for a cut back they square it back post and ask “where is the striker “
Law of the Game retweeted
João Cancelo is the first player to score a goal for independent Portugal 🇵🇹
Law of the Game retweeted
LEO/DANIEL EMASSSSSSSSSSSSSS!!!!!!!
Penampilan yang sangat dahsyat. Percaya diri. Taktis.
Law of the Game retweeted
Saya setuju soal akar historisnya — banyak ritual ini memang lahir dari struktur yang tak menempatkan laki-laki dan perempuan pada kedudukan setara. Ijab kabul jadi dimaknai sebagai penyerahan dari wali ke suami, yang dalam bacaan paling literal, memang bisa terdengar seperti serah terima hak, bukan pengukuhan dua subjek yang setara.
Ini bukan tuduhan berlebihan — ini fakta historis yang tidak perlu kemudian kita ingkari mati-matian.
Tapi di titik inilah nuansanya sering hilang jadi hitam putih dan dangkal, tergilas oleh kecepatan linimasa yang menyukai simplifikasi.
Dalam fiqih klasik Islam, esensi wali sesungguhnya bukan soal kepemilikan, melainkan perlindungan — memastikan pernikahan tidak berlangsung sembarangan, dan ada pihak yang bertanggung jawab atas kemaslahatan mempelai perempuan. Bahkan hukum positif kita mengakomodasi ini lewat mekanisme "wali adhal": jika wali menolak menikahkan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, Pengadilan Agama bisa menunjuk wali hakim sebagai penggantinya — ini instrumen yang dirancang justru untuk melindungi hak perempuan menikah, bukan mengurungnya.
Sejumlah kajian fikih kontemporer, lewat pendekatan mubadalah atau resiprokal, bahkan mendorong wali dimaknai ulang sebagai tanggung jawab moral bersama antara kedua keluarga, bukan simbol ketimpangan gender — sehingga esensinya ada di fungsi pengasuhan dan perlindungan, bukan di jenis kelamin siapa yang menjalankan ritualnya.
Yang menarik, dunia Barat punya paralel yang jarang mendapat sorotan setajam ini tradisi Indonesia dan ritual Islam.
Tradisi "giving away the bride" — momen ayah menyerahkan pengantin perempuan ke mempelai pria di altar — historisnya juga soal transfer properti dan tanggung jawab, dari era ketika perempuan belum punya hak waris atau kepemilikan atas dirinya sendiri. Tapi ritual itu bertahan hingga hari ini, dan yang berubah bukan bentuknya, melainkan makna yang disematkan orang-orang yang menjalankannya: dari transaksi kepemilikan menjadi simbol restu dan cinta keluarga.
Bourdieu barangkali akan menyebut ini soal habitus — struktur yang direproduksi tubuh dan tindakan kita tanpa disadari, diwariskan sebagai kelaziman yang terasa alami padahal penuh muatan sejarah. Tapi habitus bukan penjara permanen: ia bisa direfleksikan, dipertanyakan, dan pada akhirnya dinegosiasikan ulang oleh insan yang sadar akan posisinya. Durkheim juga relevan di sini — ritual bukan sekadar tindakan kosong, ia perekat solidaritas sosial, tapi solidaritas macam apa yang direkatkan bergantung penuh pada kesadaran kolektif yang menjalankannya.
Jadi pertanyaan yang lebih jujur bukan "apakah ritual ini patriarkis" seperti yang sering dituduhkan, melainkan "apakah kita menjalankannya sebagai warisan buta, atau sebagai bentuk lama yang kita isi ulang dengan kesadaran baru".
Sungkeman bisa jadi penghambaan, atau penghormatan timbal balik. Wali nikah bisa jadi simbol kepemilikan, atau institusi perlindungan yang dijalankan dengan kesetaraan.
Bentuknya sama sepanjang jaman, tapi kesadaran pelakunyalah yang membedakan.
Karenanya ini bukan soal yang bisa disimplifikasi.
Replying to @shoeujo
ijab kabul juga literally malah passing the ownership dari ayah ke suaminya which dua2nya laki2 seolah perempuan hidup cuma jadi kepunyaan laki2 idih merinding geli bgt
Law of the Game retweeted
Berhubung lagi ramai soal Gontor, saya ada isu menarik untuk dibahas. Kebetulan adik ipar saya, temen sekosan, teman kuliah, dosen, guru di pondok, teman di IMM banyak yang alumni Gontor. Jadi soal pergontoran ini cukup paham lah.
Jadi selama ini kan kita sering ribut soal gaji guru yang kecil. Lalu kemudian kita buat narasi bahwa guru itu jangan lagi disebut pengabdian atau pahlawan tanpa tanda jasa. Harus diubah jadi penjual jasa profesional, sama dengan bisnis. Hal ini agar guru disejahterakan.
Tidak hanya guru, nakes dan PNS pun juga menuntut hal yang sama. Apa itu pengabdian? Gak ada pengabdian. Pengabdian itu artinya perbudakan. Kita kerja profesional kok.
Nah....
Menurut cerita yang saya dengar, jadi di Gontor itu ada konsep begini. Tentu saja juga praktik nyata ya.
Misalnya kamu mau fokus berkarir di almamatermu, seperti Kiai Sahal, maka kamu sudah dianggap mengabdi. Kesejahteraanmu terjamin. Makanan dijamin, tempat tinggal dijamin, jika kamu berumahtangga, ya biaya pendidikan anakmu juga sudah dijamin.
Inilah contoh "pengabdian" ala Gontor. Sebagai gantinya, ya kamu harus fokus mengajar. Jangan mikir yang lain.
Tapi artinya......
Seandainya kamu ingin punya rumah mewah, tanah banyak, aset di mana-mana, mobil mclaren, kamu gak akan bisa.
Karena kamu sudah memilih jalan pengabdian ini.
Nah jika saya kaitkan ke konteks PNS sebagai pengabdian kepada negara, guru sebagai pengabdian juga, nakes sebagai pengabdian, bagi saya konsep Gontor ini bisa ditiru.
Semua kebutuhan sehari2 harus terpenuhi lalu kita fokus mengerjakan pekerjaan kita.
Tapi mohon maaf, kalau kita ingin bisa lebih kaya daripada pendapatan kita dari gaji, ya harus pindah karir.
Kalau pengabdian model seperti ini saya pikir oke ya.
Saya kasih contoh lain lah, misalnya Romo Katolik kan begitu juga. Mereka gak boleh jadi Pastor yang pakai jam tangan mewah. Tapi ya kebutuhan mereka dijamin oleh gereja.
Ini konsep pengabdian yang benar.
Konsep pengabdian yang salah tentu juga ada.
Yakni kita disuruh kerja maksimal, tapi kebutuhan sehari-hari kita gak dipenuhi oleh pemerintah misalnya.
Ini baru contoh pengabdian sesat.
Selama dipenuhi, ya oke aja.
Tapi sekali lagi, kalau kamu pengen punya lebih, jadi orang have, jangan ambil jalan ini.
Law of the Game retweeted
Pejabat minta rakyat santun.
Sedangkan presidennya di berbagai forum enteng sekali ngomong goblok, bajingan, ndasmu..
Law of the Game retweeted
Dari cara dia ngomong ini sebenernya cukup jelas kalo dia tipe atasan yg cuma pengen tau beres, yg gak bisa nerima feedback lapangan, kalo mau nerima feedback, dia cuma pengen dengar yg bagus-bagus aja.
We are wasting 5 years for someone that should be retired at nursing home.
This quoted post is unavailable.
Law of the Game retweeted
Selain karena memang defisit empati, inilah hasil dari seorang pemimpin yg dikelilingi oleh orang2 yg memelihara yes-men culture, orang2 yg cuma menyampaikan informasi2 yg menyenangkan saja.
Pemimpin gagal.
Prabs dikasih tau jurnalis bahwa di media sosial begitu banyak kritik ke dirinya dengan traffic sangat tinggi sehingga tidak bisa disaring mana yang bot mana yang organik.
jawabnya:
"bisa, kalian tau itu bot, itu buzzer tauu, algoritma itu sama saja, itu medan perang sekarang itu"
"mereka mungkin takut kepada saya.."
"untuk menilai kekuatan suatu negara, dinilai juga pemimpinnya ...."
Law of the Game retweeted
Menurut Hardinsyah, keracunan MBG disebabkan kelalaian di sekolah. Karena guru tidak mencicipi MBG terlebih dahulu.
Kalau ada yang bisa mempertemukan saya dengan beliau, debat terbuka dan live. Saya bersedia.
MBG yang beracun, lantas yang disalahkan gurunya. Ini sudah sangat keterlaluan. Mana anggarannya diambil, haknya diambil, jam ngajarnya di ambil, suruh bagiin pula, nyicipin juga. Keracunan, guru disalahkan juga.
Ayo, siapa yang bisa nemuin. Tantangan terbuka. Offline, saya mau liat mukanya langsung.
Law of the Game retweeted
Nangisin CPNS yg gugur ditembak separatis di Papua. Paham banget jatuh bangunnya dari keluarga miskin buat raih cita-cita dan jadi tumpuan utama keluarganya. Dada ku sesek liat mereka tergeletak di jalan. Bidabnya lagi masih sempat video call keluarga korban, KKB bajingan.
Law of the Game retweeted
Gue pikir-pikir lagi, Prabowo ini kacau banget. Gue ga expext dia segoblok ini. Dulu kan paling isunya apa sih kalo dia jadi presiden? Paling HAM. Ini mah buset. Kacau banget ternyata orang dikasih kekuasaan. Ini mah udah goblok, KKN, militeristik, demensia, ditambah NPD, ABS, kapitalis, antek asing, wah banyak lah. Kombinasi combo yahut buat bikin bubar satu negara.


































