dah dibenerin 🙏🏻
“Ketika Anda angkat Salib maka lawan politikmu termasuk Saya Natalius Pigai seolah2 musuh Allah. Anda orang benar dan pemerintah orang berdosa. Ketika anda angkat Salib ( anda anggap diri sudah sekutu Allah). Sementara pemerintah termasuk belasan Menteri dan Wakil Menteri di Kabinet ini (termasuk Natalius Pigai) yang beragama Kristiani dianggap pendosa dan seolah2 kami ini bersekutu dengan setan. FATAL!.”.
Saat salib dibawa masuk ke panggung politik, saat itu juga salib berhenti sebagai simbol keselamatan dan berubah menjadi simbol kekuasaan serta unjuk kekuatan. Begitu salib berubah menjadi simbol kekuasaan, orang akan langsung teringat pada luka lama sejarah: Perang Salib.
Mengapa hal itu sangat berbahaya?
Salib telah kehilangan maknanya. Di hadapan salib, kita sesungguhnya harus menyampaikan credo:
“Aku anak yang berdosa, ampunilah aku.”
Namun, di panggung politik, salib bisa dipelintir menjadi:
“Kami benar. Anda, pemerintah, salah. Kami yang berkuasa.”
Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai salib yang mengajarkan kerendahan hati, pengampunan, kasih sayang, belas kasih, dan cinta kasih.
Salib juga bisa membuat lawan politik seolah-olah menjadi musuh Allah. Inilah yang paling fatal.
Dalam politik, lawan kita adalah sesama warga negara yang memiliki perbedaan pendapat dan pilihan politik. Itu merupakan hal yang wajar. Hari ini seseorang menjadi lawan, tetapi esok hari bisa menjadi kawan dalam koalisi.
Selengkapnya:
posnews.co.id/salib-merah-po…
"ga halloween kah?"
.
ga, hidup kita udah cukup HORROR 🙏🏻
whiskey and trauma dumping aja for this year's halloween 🥃🎃 – at Jakarta Selatan, DKI Jakarta
doviii retweeted
Baca @NataliusPigai2
Jangan engkau munafik. Banyak orang-orang di sekitar ko pakai salib untuk bisnis.
doviii retweeted
“Ketika Anda angkat Salib maka lawan politikmu termasuk Saya Natalius Pigai seolah2 musuh Allah. Anda orang benar dan pemerintah orang berdosa. Ketika anda angkat Salib ( anda anggap diri sudah sekutu Allah). Sementara pemerintah termasuk belasan Menteri dan Wakil Menteri di Kabinet ini (termasuk Natalius Pigai) yang beragama Kristiani dianggap pendosa dan seolah2 kami ini bersekutu dengan setan. FATAL!.”.
Saat salib dibawa masuk ke panggung politik, saat itu juga salib berhenti sebagai simbol keselamatan dan berubah menjadi simbol kekuasaan serta unjuk kekuatan. Begitu salib berubah menjadi simbol kekuasaan, orang akan langsung teringat pada luka lama sejarah: Perang Salib.
Mengapa hal itu sangat berbahaya?
Salib telah kehilangan maknanya. Di hadapan salib, kita sesungguhnya harus menyampaikan credo:
“Aku anak yang berdosa, ampunilah aku.”
Namun, di panggung politik, salib bisa dipelintir menjadi:
“Kami benar. Anda, pemerintah, salah. Kami yang berkuasa.”
Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai salib yang mengajarkan kerendahan hati, pengampunan, kasih sayang, belas kasih, dan cinta kasih.
Salib juga bisa membuat lawan politik seolah-olah menjadi musuh Allah. Inilah yang paling fatal.
Dalam politik, lawan kita adalah sesama warga negara yang memiliki perbedaan pendapat dan pilihan politik. Itu merupakan hal yang wajar. Hari ini seseorang menjadi lawan, tetapi esok hari bisa menjadi kawan dalam koalisi.
Selengkapnya:
posnews.co.id/salib-merah-po…




































