geng retweeted
since we’re losing the ancient texts here’s three videos of heeseung being silly, loud, and goofy throughout the years 🥺 he’s always been this cute energetic boy and i’m happy to see he’s got his spark back brighter than ever ❤️
Mak gue juga cukup protektif sbrnnya terlebih ai anak tunggal tapi ya guenya pegajulan aja ude.
Wajar aja gasih melanggar sedikit?
Kek i mean gue uda gede jir uda punya duit sendiri juga, yg penting gue masi sehat sentosa ga lupa keluarga bukan melakukan hal tidak senonoh.
Replying to @hopetricor
Ya emang kenapa sih kak 😭
Pikiran orang tua suka beda, aku belum jadi orang tua tapi aku kerja dibidang pendidikan jadi sedikit banyak paham pola pikir orang tua
Emang anaknya udah gede, tapi tetep dimata orang tua ya anak
Khawatir, anak itu tanggung jawab
Guelah dulu yg pd zaman itu banyak startup muncul itu berangan” kerja di startup lalu jd mba mba scbd.
Baru tau ada namanya syndrom darlaa wkwkwk @csyvibe
1. Inkonsistensi antara Janji dan Realita
Awalnya bilang kalau banyak yang menentang, Parhan bakal dikembalikan ke Sency karena paham bahwa “Parhan milik warga”. Tapi begitu pro dan kontra benar-benar membesar, sikapnya langsung berubah. Bukannya menepati janji, malah defensif dan mempertahankan kucing itu demi ego pribadi. Jadi, janji awal cuma pemanis supaya nggak dihujat di awal? Nggak etis.
2. Standar Kepemilikan yang Elitis dan Nggak Realistis
Menuntut bapak sekuriti mal menunjukkan rekam medis, buku vaksin, sampai microchip itu benar-benar nggak masuk akal.
Faktanya, nggak semua orang di Indonesia punya kemampuan finansial untuk mengakses layanan dokter hewan premium. Banyak pekerja atau sekuriti mal yang merawat kucing jalanan menggunakan uang pribadi, memberi makan, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang tanpa dokumen formal. Memojokkan orang kecil dengan celah legalitas seperti ini jahat banget, Mbak-Mbak Sydney 😂
3. Ketimpangan Relasi Kuasa (Power Imbalance)
Menantang bapak sekuriti atau netizen untuk mendatangi apartemen pribadinya di BSD Tower C, sambil memamerkan bahwa dirinya sudah 20 tahun tidak tinggal sesuai alamat KTP.
Tindakan ini jelas memperlihatkan status sosial untuk mengintimidasi pihak lain yang secara pekerjaan dan ekonomi berada di bawahnya. Akibatnya, ruang mediasi jadi sengaja dibuat tidak setara.
4. Sindrom “Darla” (Toyification Hewan)
Aksi ini mirip banget dengan karakter Darla di film Finding Nemo wkwk. Mengambil hewan yang sudah hidup bahagia di lingkungan komunalnya hanya demi memuaskan obsesi, ego pribadi, atau kebutuhan konten terselubung.
Padahal, menyelamatkan hewan seharusnya mengutamakan kesejahteraan si hewan, bukan malah mencabutnya secara paksa dari lingkungan sosial yang selama ini membesarkannya.
Duh, nggak bisa di-mention ya beliau wkwkw.
Ku kdg gaberani sapa deluan bbrpa mutual yg sebenarnya uda kespoil dikit bentukannya krn takut dianya ga kenal aku😅
geng retweeted
pacaran ngga, nabung juga ngga, di era sekarang in this economy semua aset gua ada di perut



















