Pinned Tweet
Replying to @itweetb
Yak inilah, polling "Apa yang Kami Lihat Ketika Kami Melihat Kamu". Polling berdasarkan penilaian/opini/pandangan pribadi. Jika perlu dari hati. Alangkah baiknya sampai berikan penilaian untuk keseluruhan. Waktunya seminggu. Sebarkan. Nuhun pisan 🙏
Mencoba bantu menerjemahkan ke bahasa warga sipil pada umumnya ⬇️
Nikah / cari jodoh sesama ITB itu udah kayak semacam program menghasilkan keturunan unggulan. Pacaran biasa pun, kemungkinan dapat pasangannya ya latar belakangnya kurang lebih sama lah.
Jalur taaruf Salman, lebih-lebih lagi program mengagendakan bibit unggul, karena langsung tukeran CV jadi bisa kelihatan IPK-nya, di jurusan apa, jadi bisa kira-kira IQ-nya berapa (ada jurusan yang emang lebih 'susah' dari yang lain), gajinya (pendekatan untuk kira-kira IQ-nya berapa, terus personalitynya gimana, disiplin nggak, goal-oriented nggak, plus regulasi emosinya gimana), yang mana semua proses perjodohan ini bisa efisien. Kenapa? soalnya kalau pakai sistem CV, syaratnya jelas buat apply dan menolak (timeline-nya jelas, dalam 2 minggu perlu udah kasih keputusan mau lanjut atau nggak). Jadinya apaa? Jadinya sistem ini efisien banget untuk mencari pasangan berdasarkan prestasi dan menghasilkan keluarga yang 'harmonis' (nggak timpang-timpang amat lah, karena udah ketaker dari awal).
Kalau pacaran pada umumnya, bisa jadi nggak efisien-efisien amat soal perjodohan dan program menghasilkan keturunan unggulan ini, soalnya bisa jadi sebetulnya pas milih pasangan gak cocok-cocok amat dan ada ketimpangan, tapi karena udah keburu sayang, tetep aja dikekepin padahal jodoh orang. (sebuah perbandingan sama sistem CV taaruf salman).
funny side effect: ITB marriage market is lowkey a eugenics program 🤣
jalur pacaran biasa aja udah assortative mating just by environment
jalur taaruf salman sebenarnya lebih eugenics lagi karena tukeran CV kan kelihatan tuh IPK (proxy of IQ, normalized by jurusan), gaji (proxy of IQ + high conscientiousness / low neuroticism), dipercepat dgn low barrier to entry/exit with formalized mechanism (you need to accept/pass in reasonable timeframe usually 2 weeks, jgn gantung orang / ghosting) menghasilkan pretty efficient market for meritocratic, well-adjusted family
kalau pacaran ada market inefficiency krn sunk cost / inventory being held away from market for too long despite better match is available
MU kalah. Terus jam segini baca ini. Coba tolong ada yang bisa jelasin pakai bahasa bayi? 🙃
median IQ ITB 120+
(average non-ITB population is 100)
Jadi ada 3 level mahasiswa:
- below median (100-120)
- median-ish (120-140)
- top (140+)
buat yg top, sorry to say ga ada itu trade-off, they can just do everything mau akademik, ketua himpunan, organisasi ekstra kampus, internship top, loncat s2/s3 + lpdp with minimum effort. mau low SES kemiskinan struktural (asal ada safety net beasiswa) atau high SES privilege mami papi mereka sama2 mampu, genetic lottery 🤣
anomali high iq tapi low impulse kontrol / low executive function either udah drop out waktu tpb nyangkut warnet atau udah nasakom/dukom di jurusan
ada juga yg neurodivergent tapi kalo pinter bisa masking and simply be functional
catatan trade-off ada sedikit di jurusan labor-intensive kyk arsitektur dsb (inevitable grinding). ga ada tradeoff di jurusan g-loaded yg butuh abstraksi kognitif kyk pure math/physics dsb (mau lu jungkir balik kalo ga ngerti ya ga ngerti aja)
Sumber data: LTPB (gw dulu kadiv mamet kadwil jadi bisa request data agregat)
tips: you can request your personal data too
ITWEETB retweeted
“apa rasanya jd perempuan yg hampir tiap hari di-catcalled di r publik, tp jarang yg koreksi pelakunya, padahal tempatnya di situ2 aja”
why dont we collectively mapped the hotspots?!
Ada perempuan pingsan di selasar Labtek VII. Panitia sama petugas security gercep. Jangan lupa hidrasi guys. Kalau nggak kuat, mundur bentar cari nafas panjang
Terima kasih kepada mereka yang telah berjuang. Panjang umur perjuangan. Sehat selamat semuanya. Saling jaga ragawi ✊



























