strawberiél retweeted
Replying to @lowwwew @TillTend_
banyak terima kasih untuk, kekasih hatiku 🤍
terima kasih, untuk lagu yang bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi tentang semua yang membersamai kita dalam semesta,
terima kasih, untuk setiap luka yang bersama kita biarkan melebur, menyatu, menembus waktu,
selalu, selamanya 🤍
puji semesta, mengakhiri bulan ini dengan tetap tidak percaya pada negara dan agama. jadi jangan susah payah bicara bernegara, hukum bernegara, agama, dosa dan sejenis hierarkis lainnya, setidaknya kepada saya.
strawberiél retweeted
orang-orang yang masih suka menyorot kamera dan merekam wajah massa aksi di situasi2 tertentu harus paham bahwa tindakan mereka itu malah membuat massa aksi rentan tertangkap dan mudah teridentifikasi oleh silop.
gak sengaja baca wa nyokap di laptop. udahlah, muak banget gue sama korporasi besar dan bank yang selalu membodohi keluarga gue. tapi keluarga gue dikasih tau juga batu dan gak mau tau. udah gini, tetap aja tanggung jawab kena ke gue sbg anak pertama. bangsat nih negara kontol.
strawberiél retweeted
Berlari lah lebih cepat wahai kamerad! Dunia tua membuntuti-mu dari belakang! Huftt... 😮💨
Ga sabar buat melepas liarkan si namargota :)
aku sendiri adalah orang yang sangat konsumtif, apalagi menuju akhir tahun gini. dan aku lagi komitmen ke diri sendiri, untuk konsisten kurangin beli beli. karena, gak ada yang perlu dibuktikan juga ke orang lain.
persetan sama obsesi menyelamatkan konsumsi dan daya beli sebagai ukuran kesehatan ekonomi.
yang perlu dipertahankan bukan kemampuan masyarakat memperkaya kapital besar. tapi kemampuan memenuhi kebutuhan hidup dan menguasai lebih banyak proses produksi dan distribusi sendiri.
kalau masyarakat mulai mengurangi ketergantungan pada korporasi besar, biarin. tapi jangan berhenti pada boikot.
kita alihkan konsumsi dan tenaga produktif ke altenatif jaringan mutual aid.
strawberiél retweeted
Replying to @lowwwew
Dalam masyarakat yang mengedepankan kondisi produksi modern, seluruh kehidupan tampak sebagai akumulasi tontonan yang sangat besar. Segala sesuatu yang dulu dialami secara langsung telah beralih ke bentuk representasi.
society of spectacle. bagaimana sebuah perjuangan berhasil terlepas dari akar materialnya.
ketika citra menggantikan pengalaman dan representasi menggantikan realitas. ketika kita mulai mengenal penderitaan, konflik dan perjuangan lewat apa yang sedang ramai diperbincangkan.
ada momentumnya, ada slogan slogannya, ada estetika visualnya, ada figur publiknya. lalu bergeser cepat ke isu berikutnya, sebelum kita benar benar memahami secara mendalam.















