aku pernah ada di fase dekat sama seseorang sampai aku pikir, kayaknya kami emang lagi sama-sama menuju ke sesuatu yang serius, deh.
soalnya kami ngobrol hampir setiap hari, saling cerita tentang banyak hal, ketemu juga di tengah kesibukan masing-masing. dari hal-hal kecil kayak gitu, aku mulai ngerasa kalau kehadiran kami di hidup satu sama lain bukan cuma sekadar lewat. aku pikir, kalau dua orang bisa sedekat itu, mungkin mereka memang sama-sama punya keinginan buat melangkah lebih jauh.
ternyata, aku bisa aja salah memahami semuanya.
sampai akhirnya dia bilang kalau dia masih bingung sama dirinya sendiri, sama apa yang dia mau, dan ke mana dia mau membawa semuanya. waktu itu aku berusaha memahami dia. aku pikir mungkin dia cuma butuh waktu, jadi aku kasih ruang dan berusaha nggak menuntut jawaban yang memang belum bisa dia kasih.
tapi makin ke sini, aku baru sadar kalau selama sibuk memahami dia, aku malah lupa sama perasaanku sendiri. aku terlalu fokus mikirin gimana caranya mengerti keadaan dia, sampai jarang bertanya ke diri sendiri, aku sendiri kuat nggak, ya, kalau harus terus ada di posisi kayak gini?
dan ternyata, yang bikin sakit bukan cuma karena akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. tapi juga karena sesuatu yang selama ini terasa dekat banget, yang sudah jadi bagian dari keseharian, tiba-tiba menyisakan banyak pertanyaan.
dari situ aku belajar kalau dekat sama seseorang nggak selalu berarti kalian menginginkan hal yang sama. bisa aja dua orang sama-sama nyaman, sama-sama menikmati waktu bersama, tapi ternyata punya kesiapan yang berbeda untuk membawa hubungan itu ke arah yang lebih serius.
aku nggak mau menganggap semua yang pernah ada itu nggak berarti. buatku, semuanya tetap pernah jadi bagian yang baik dalam hidupku, meskipun akhirnya nggak berakhir seperti yang aku harapkan.
sekarang aku mulai ngerti kalau memahami seseorang itu boleh, tapi bukan berarti aku harus terus menunggu sampai dia tahu apa yang dia mau. aku juga punya perasaan yang perlu dijaga, punya hidup yang harus tetap berjalan, dan punya hak buat memilih sesuatu yang bikin aku merasa tenang.
aku nggak menyesal pernah tulus sama seseorang. aku cuma belajar kalau ternyata, tulus aja nggak selalu cukup kalau dua orang nggak punya keinginan yang sama untuk melangkah lebih jauh.
aku pernah nulis lebih lengkap tentang pengalaman ini di Substack-ku, tentang hal-hal yang dulu bikin aku bingung, yang sempat sulit aku terima, sampai apa yang akhirnya aku pelajari dari semuanya.
judulnya “Aku Pernah Mengira Kita Sedang Saling Memilih.”
kalau kamu relate atau pengin baca cerita lengkapnya, aku uda tulis di Substack yaa. 🤍
kenapa ya kadang kalau ada hubungan yang lagi rame dibahas, orang-orang tuh langsung punya pendapat masing-masing. Ada yang nyaranin buat pisah, ada yang bilang mending bertahan, ada juga yang ngerasa kalau keputusan mereka yang paling benar. Padahal, kita kan cuma lihat sebagian kecil dari cerita mereka. Kita nggak tahu sebenarnya apa aja yang udah terjadi di balik hubungan itu.
Kalau seseorang memilih buat lanjut menikah atau tetap mempertahankan hubungannya, kita juga nggak pernah benar-benar tahu apa aja yang jadi pertimbangannya. Bisa jadi mereka udah ngobrol panjang lebar secara pribadi, udah melewati banyak proses yang nggak diketahui orang lain, atau ada alasan tertentu yang memang nggak mau mereka ceritain ke publik. We don’t know the whole story, right?
Tapi di sisi lain, memilih buat lanjut juga bukan berarti semua masalahnya otomatis selesai. Kalau sebelumnya ada masalah kepercayaan, misalnya, ya tetap perlu ada usaha buat membangun kepercayaan itu lagi. Nggak cukup cuma bilang semuanya udah baik-baik aja kalau ternyata masalah yang sama masih terus berulang. Karena menikah itu bukan cuma tentang memutuskan buat tetap bersama, tapi juga tentang kesiapan buat menjalani semuanya setelah itu.
Menurutku, kita juga nggak bisa langsung bilang seseorang bodoh karena memilih bertahan, atau menganggap seseorang gagal cuma karena memilih pergi. Everyone has their own reasons, and we don’t always know what happens behind closed doors. Kita boleh punya pendapat sendiri, tapi bukan berarti kita paling tahu apa yang terbaik buat kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, yang bakal menjalani pernikahan itu bukan orang-orang yang rame berkomentar di media sosial, tapi mereka sendiri. Jadi, buatku, yang lebih penting bukan sekadar mereka memilih lanjut atau berpisah, tapi apakah keputusan itu memang mereka ambil dengan sadar dan tanpa paksaan. Karena yang akan menjalani konsekuensinya nanti ya mereka, bukan kita yang cuma melihat ceritanya dari luar.
Kadang aku ngerasa makin dewasa, makin sadar kalau nggak semua hal perlu kita tanggapi. Ada orang yang salah paham sama kita, ada yang punya opini berbeda, dan ada juga yang menilai kita tanpa benar-benar tahu cerita lengkapnya. Dulu mungkin rasanya pengen menjelaskan semuanya, just to make sure people understand us.
Tapi lama-lama aku mikir, kenapa kita harus selalu sibuk membuktikan sesuatu ke orang lain? Padahal, nggak semua orang punya perspektif yang sama, dan nggak semua orang juga mau memahami kita. Sometimes, explaining yourself over and over again is just exhausting.
Bukan berarti kita nggak boleh menerima kritik atau mengakui kesalahan, ya. Kalau memang kita salah, of course we need to take accountability. Tapi kalau kita cuma berbeda pendapat atau nggak sesuai sama ekspektasi orang lain, mungkin nggak semuanya harus dibawa ke hati.
Menurutku, there’s a certain kind of peace yang muncul ketika kita mulai memilih mana yang layak mendapatkan energi kita dan mana yang nggak. Kita tetap bisa jadi orang yang baik tanpa harus selalu menjelaskan diri sendiri. Karena at the end of the day, kita nggak bisa mengontrol cara orang melihat kita, tapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.





















