“Selamat siang, Tuan @hymn_rufus. Karena sudah memenuhi syarat, aku ingin upgrade cangkulku dari Copper Hoe ke Steel Hoe. Untuk biaya, bisa menggunakan voucher ini kan?” Menunjukkan selembar voucher hadiah.
/ Seluruh interaksi bersama Severin akan ditunda hingga memiliki kesempatan untuk ts kembali, mohon maaf karena tidak berhasil diselesaikan selama masa ts berlangsung. 🙇♂️
Replying to @velourage
@velourage | Langkah yang semula tanpa tujuan berakhir di Perpustakaan, Severin memutuskan masuk untuk melihat-lihat keadaan. Ia menyusuri setiap sudut ruangan, tetapi tak kunjung berhasil menemukan buku yang diinginkan. “Hey, kuning. Apakah kau tahu letak buku sejarah desa ini?”
bebas. Setelah mendengar kalimat berikutnya, perihal nona yang membuatnya tinggal di sini—ia kembali menatap sang pemuda. “Aku sudah meminta bantuanmu secara baik-baik, seharusnya kau tak perlu semarah itu kupanggil ‘kuning’ karena aku tak tahu namamu.” 😌 Ia hanya beralasan,
sebab tak ingin disalahkan. “Iya, aku kenal dengan Lise. Kami tinggal di kota yang sama sebelum dia pindah kemari, dan aku datang untuk menggantikannya sebentar. Aku tak pernah memanggilnya kuning sejak kami pertama kali bertemu.” Terdengar kekehan kecil menyusul. | @velourage
(8) @maestno | Severin berdiri di tepi sungai yang mengalir, bulan depan musim gugur akan berakhir. Ia hanya senang berdiam diri di sana, sebab riuhnya aliran air terdengar lebih menyenangkan dibanding riuh keramaian manusia. Seharusnya waktu belum terlalu petang, ia belum …
ingin pulang. Namun, ia tidak bisa memastikan pukul berapa sekarang. Ponsel pintar miliknya kehabisan daya, juga tidak mengenakan arloji karena tidak cukup kaya untuk membeli. Jemalanya menoleh ke kanan dan kiri. “Hey, Pak Tua. Boleh kutahu sekarang pukul berapa?”
Setelah menemukan sosok @maestno dengan seenaknya ia bertanya tanpa memangkas jarak, bahkan berteriak.
ㅤ
ㅤㅤㅤⵌ SELL YOUR PRODUCE.
ㅤㅤㅤAUTUMN ︵ EDITION. 🍂
ㅤㅤㅤOCTOBER, @petaIpaths. ⛏️
ㅤ
lekas kusimpan bersama dua moonstone yang sebelumnya kutemukan. Langkahku bergerak meninggalkan lantai bawah area tambang, naik ke permukaan dan berpamitan pada sang penjaga. Tujuan akhir ke Jeber Mart, menemui Rufus dan memberikan hasil tambang.
(55) @sandyawala | Severin tidak pernah diizinkan untuk membimbing pengunjung yang hendak membuat kerajinan, sebab sikapnya cukup buruk dalam berkomunikasi. Namun, hari ini semua pengrajin sedang sibuk mengurus pekerjaan mereka. Tanpa semangat langkahnya bergerak mendekati …
pemuda berhelai seterang bulu angsa. “Anda ingin membuat apa, Pak Tua?” Hanya karena surai si pemuda berwarna putih, ia menganggap pengunjung tersebut seorang pria yang cukup tua. Pribadinya memang suka berterus terang, dan tidak berpikir panjang. Hingga membuatnya seringkali …
menjadi korban kesalahpahaman, meski sesungguhnya ia tidak memiliki niat jahat. | @sandyawala
(6) @tirredoflife | “Sebelum membuat sesuatu, kau harus menggunakan apron.” Ucapnya pada pemuda yang berada di dekat meja putar pembuat kerajinan, ia mengingatkan sebab lelah mendengar orang ceroboh yang mengogori pakaian. “Dan apa yang ingin kau buat?” Tanyanya tanpa basa basi.
(67) @cIytemnextra | Severin tidak menyadari kehadiran seorang wanita dewasa di sekitarnya, mungkin karena ia terlampau hanyut dalam pembuatan vas bunga. Beberapa pengunjung seringkali datang untuk membuat sesuatu yang berguna, atau sekadar ingin mencoba. “Apakah anda datang …
dari tempat yang jauh? Mungkin daerah bersalju?” Sikap terus terangnya buruk sekali dalam menyapa, karena itu pemilik sentra pembuatan kerajinan tidak mengizinkannya bicara dengan banyak orang. Menurut Severin sang nona tampak pucat dan asing. | @cIytemnextra




