Rian Ernest retweeted
Apa arti kemerdekaan ekonomi bagi sebuah bangsa?
Pasal 33 UUD 1945 lahir dari satu asas yang mulia: kekeluargaan dan kesejahteraan.
Ia adalah perwujudan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kuncinya ada pada mendemokratisasi aktivitas ekonomi, dan menjaganya tetap berkelanjutan.
Demokratisasi ekonomi berarti keterjangkauan. Apa pun yang kita produksi dan jual di dalam negeri semestinya bisa dijangkau oleh daya beli rakyat banyak.
Kenyataannya, porsi kelas menengah kita justru menurun, tanda bahwa aktivitas ekonomi kian tidak terjangkau.
Diperparah oleh pertumbuhan yang sentripetal, menyedot kekayaan dan talenta terbaik dari daerah ke pusat.
Lihat angkanya: PDB per kapita kota primer 91% lebih tinggi dari wilayah pedesaan.
Pasal ini juga menyatakan cabang-cabang produksi yang penting dikuasai negara.
Persoalannya, tafsir kita hampir selalu menyempitkan makna aset negara sebatas sumber daya alam. Padahal ada aset yang jauh lebih krusial, dan sering luput: sumber daya manusia.
Sebab pengelolaan sumber daya alam pada akhirnya berkorelasi dengan kualitas manusianya. SDM yang unggul adalah kunci utama untuk mengurus, mengolah, dan meningkatkan nilai tambah kekayaan alam kita.
Kalau kognisi manusianya tidak dibenahi, hilirisasi hanya akan berhenti pada ekspor barang setengah jadi, tanpa pernah benar-benar menguasai teknologinya.
Di Indonesia, hanya 10% kepala rumah tangga yang mengenyam pendidikan tinggi.
Padahal untuk melompat, sebuah bangsa membutuhkan tiga hal: imajinasi, ambisi, dan keberuntungan yang dijemput.
Maka muncul pertanyaan struktural. Siapa yang bisa menyuntikkan ketiga aset itu, kalau di rumah pun stimulasi intelektualnya terbatas?
Jawabannya: guru.
Di rumah, orang tua menghadapi dua atau tiga anak. Di sekolah, seorang guru bisa menyalakan imajinasi 20 hingga 200 murid sekaligus selama 8 jam.
Tapi guru kita masih terbelenggu. Kompensasi yang rendah membuat talenta terbaik enggan mengajar.
Median gaji guru di Indonesia sekitar USD 257 sebulan, sementara Singapura menghargai gurunya hingga USD 4.413.
Belenggu lainnya adalah ketiadaan meritokrasi. Kita terlalu sering menyeleksi talenta berdasarkan loyalitas dan patronase, bukan kompetensi.
Akibatnya terasa sampai ke ruang publik.
Dengan kapasitas kognitif yang timpang dan algoritma media sosial yang dirancang untuk clickbait, terjadi semacam perceraian antara opini publik dan temuan ilmiah.
Emosi dan persepsi dianggap lebih penting daripada fakta.
Maka solusinya sebenarnya tunggal: reformasi guru.
Kurikulum penting, teknologi penting, tapi kualitas guru jauh lebih menentukan.
Kita perlu keberanian meniru Singapura dan Korea Selatan, merekrut guru dari 10 sampai 20% lulusan terbaik, memberinya kompensasi yang layak dan status sosial yang terhormat,
agar profesi ini kembali diminati talenta-talenta tercerdas bangsa.
Sebab pada akhirnya, mengimplementasikan Pasal 33 sangat bergantung pada kemampuan kita mengelola aset negara yang tak kalah penting:
sumber daya manusia-nya.
@paramadina
Rian Ernest retweeted
Bayangkan seorang anak brilian, lulusan terbaik dari Sleman.
Ia ditawari mengajar di kampung halamannya. Gajinya tiga juta. Di saat yang sama, ada tawaran di tempat lain dgn gaji lima puluh juta.
Kita semua tahu ke mana ia akan pergi.
Dan di situlah letak persoalannya. Panggilan jiwanya mungkin masih ada, tapi ekosistem dan sistem tidak memungkinkannya.
-
Median gaji guru di Indonesia belum bisa mencukupi keberlangsungan hidup.
Di Singapura, angkanya menyentuh Rp70 juta.
Korea Selatan merekrut gurunya dari 5% lulusan terbaik. Singapura, dari 20% teratas.
-
Sebab kualitas pendidikan sebuah bangsa tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya.
Dan tugas seorang guru bukan sekadar mengajar rumus. Ia harus bisa menyuntikkan tiga hal: imajinasi, ambisi, dan keberuntungan yang dijemput.
Mengingat evolusi yg semakin exponential, baik geopolitik, ekonomi, teknologi, maupun iklim.
Semakin produk pendidikan kita, terutama mereka yang berkecimpung di hubungan internasional, harus punya deksteritas geopolitik: kemampuan berayun ke kekuatan-kekuatan besar, termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, dan Rusia.
-
Lalu salah satu pertanyaan dari murid SMP yang menunjukkan bahwa, masalahnya bukan hanya pada guru-nya.
Ia bertanya: bagaimana mental anak yang tertekan bisa menjadi jernih?
Pertanyaan itu membawa kita pada satu paradoks zaman ini.
Teknologi memang telah mendemokratisasi banyak hal, tapi yang terdemokratisasi baru informasi, belum ide.
Daron Acemoglu, dalam Power and Progress, mengingatkan: kemajuan teknologi tidak otomatis berkorelasi dengan distribusi peningkatan kesejahteraan manusia.
-
Media sosial menyebarkan informasi, tapi bukan selalu gagasan.
Yang tumbuh justru polarisasi, dan pada anak-anak muda, amnesia historis. Terlalu lekat dengan kekinian, dan terlepas dari sejarah.
Jonathan Haidt mengaitkan ini langsung dengan meningkatnya anxiety dan depresi pada generasi muda.
-
Maka jawabannya tidak berhenti pada membatasi layar.
Bahwa penting utk membudayakan kembali diskursus ide. Di meja makan, di tempat tongkrongan, di ruang-ruang tempat kita berkumpul.
Karena selama internet hanya mendemokratisasi informasi dan bukan ide, percakapan kita hanya akan semakin keruh.
Kalau jalan keluar itu kita temukan, barangkali di situlah kita mulai bisa membayangkan sebuah bangsa, sebuah kawasan, yang jauh lebih keren ke depannya.
Tanpa itu, nihil.
Rian Ernest retweeted
Karena banyak yang menanyakan artikel saya tentang kelas menengah di Carnegie Endowmen for International Peace, maka saya posting ulang .
“What holds a country is not its statistics, but the faith its people keep. From Affan we are reminded that one life can reveal a nation’s fault line between numbers and trust.”
carnegieendowment.org/resear…
Rian Ernest retweeted
Besok, Kamis, 6 November 2025, insyaallah @filmpangku tayang di bioskop.
Ayo lihat bagaimana tim makeup dan wardrobe membuat para karakter terlihat mentah, getir dan jujur.
Ini adalah film tentang manusia yang tetap berjuang, meski hidup tidak pernah memberi jeda.
Rian Ernest retweeted
Membahas buku terbaru Dani Rodrik bersama Dani, Rebecca Henderson, John Cassidy, dan saya.
Selamat untuk Dani atas terbitnya Shared Prosperity in a Fractured World, sebuah buku luar biasa dan sangat relevan bagi negara-negara berkembang.
Dani mengingatkan, demokrasi membutuhkan kelas menengah yang kuat, dan kelas menengah yang kuat lahir dari pekerjaan yang bermartabat. Itu hanya mungkin jika kita menciptakan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Discussing Dani Rodrik’s new book with Dani, Rebecca Henderson, John Cassidy, and myself.
Congratulations to Dani @rodrikdani on the launch of Shared Prosperity in a Fractured World ;!a remarkable and timely work, full of insight for both developed and developing countries.
Dani reminds us that democracy stands on the strength of its middle class, and that strength comes from good jobs, which can only thrive when growth is inclusive, sustainable, and green.
Rian Ernest retweeted
Anggota DPR bermasalah merupakan produk dari sistem pemilu dan UU Pemilu yang pragmatis dan oportunistik. Alih-alih menegakkan pengawasan, menjalankan penegakan hukum, menjaga integritas penyelenggara, memastikan kepatuhan dan akuntabilitas dana kampanye; UU Pemilu malah didesain ramah intervensi politik partisan. Penyelenggara pemilunya bobrok dan tidak berintegritas, sekadar jadi proxy politik dan melanggengkan hegemoni kelompok chauvinis, penegakan hukum pemilu mandul, serta pencalonan pemilu/pilkada yang berorientasi pada caleg berkantong tebal dan selebritas. Jadinya panggung DPR dianggap panggung hiburan ala TV yang semua bacot bisa keluar tanpa ditimbang. Rakyat yang diam bisa muak pada ambang kesabarannya. MUTLAK REFORMASI PEMILU. Benahi sistem, tegakkan akuntabilitas pendanaan politik, demokratisasi kaderisasi dan rekrutmen partai, ganti penyelenggara pemilu.
Rian Ernest retweeted
Presiden Prabowo mengambil langkah strategis dlm penegakan keadilan dgn memberi amnesti kepada Hasto dan abolisi kpd Tom Lembong. Ke depan tak blh ads lg yg menggunakan politik utk merekayasa hukum melalui penyanderaan politik sebab kalau itu dilakukan bs dihadang oleh Presiden.
Rian Ernest retweeted
Korupsi itu kejahatan. Namanya kejahatan, harus didasari niat jahat. Sesederhana itu memahami pentingnya niat jahat.
Kalo nggak ada niat jahat tapi dihukum, berarti negara yang jahat. Ini bisa bikin Pak Lopa dan Pak Artidjo bangkit dari kubur...
THE LAST ACCORD
Habis nonton private screening film ini. Film ini ringkasan dari proses perdamaian GAM - Pemerintah RI. film ini menampilkan sejarah yang sedih dan pelanggaran HAM yang disajikan dari sisi manusiawi para aktor perdamaiannya.
@dinopattidjalal @andinieffendi
Gw bukan pengamat teater. jarang bgt nonton musikal. kecuali sekali pas di Broadway NY.
musikal Keluarga Cemara by @VisinemaID
Asli keren bgt. koreonya. nyanyinya. script dan jokesnya. love it!
Beda bgt sama feel series di TV era 90an itu. Ini 'modern' bgt.
Sampai 13 Juli
Trump Zelensky:
1. Zelensky harusnya kalem aja ga usah kepancing Wapres US yg merasa diplomasi adalah koentji.
2. Wapres n Trump berasa punya power moral dan duit utk lecture Presiden negara berdaulat di depan TV.
IMO: klo blm dpt meeting of mind, ya ga usah live tv n qna😑
Banyak banner vertikal/horizontal di Sudirman Thamrin utk menyambut Pak Erdogan. Tapi full bahasa Turkish. Mungkin lebih bagus ada terjemahan bahasa Indo/Inggris.
























