
Multimedia journalist, documentarian, lecturer-researcher, @CardiffJomec • @ArtsUnimelb • @abcaustralia_id • All views my own • RT & ❤ ≠ endorsements•
Di mana-mana hatiku senang
Joined June 2009
- Tweets60.5K
- Following2K
- Followers8.3K
- Likes12.5K
Konon katanya, perbedaan antara teman, kawan, dan sahabat, bahkan sahabat baik, terletak pada derajat suffering yang kamu share bersamanya. Kamu hanya share sufferingmu sama orang yang kamu anggap dekat, yang bersamanya kamu merasa nyaman dan aman, yang bersamanya kamu bisa jadi dirimu sendiri. Makin dekat kamu sama dia, makin kamu mau share sufferingmu, dan biasanya mereka masuk kategori ini nggak banyak. Nggak heran, biasanya jumlah sahabatmu sedikit, sementara kawanmu banyak, dan temanmu banyak sekali. So, terima kasih banyak ya untuk sahabat, kawan, dan teman yang udah nememin saya selama ini. Yang udah dengerin suffering saya, yang duduk diam dengerin saya nangis dan bahkan nangis bareng. You know who you are. I love you.
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Day 301 of 365
Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kalian akan dapat memadamkan semua panah api si jahat.
Ef. 6:16
Harus nyimak khotbah ini dulu: youtube.com/live/LwniiTXKh4U…
Replying to @hansdavidian
Meanwhile a lawfull obedient citizen Jesus in another universe;
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Catatan Gus Fakhier (pesantren Lirboyo).
Selengkapnya: instagram.com/p/DfDLxhekjmU/…
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
TARIK MUNDUR TENTARA DALAM MENGHADANG AKSI MASSA!
Demonstran bukan kombatan. Kritik bukan ancaman militer. Jalan raya bukan medan perang.
Konstitusi menjamin kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Please send some support to Evan. He’s threatened by Michelle Wibowo, berawal dari book club ekslusif lulusan luar negeri. 🙏🙏🙏
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Hi all!
Hari ini Michelle Wibowo reached me out via Threads DM. I've tried to talk to her very politely, and I thought I managed to convince her to stop her lies and make her go to the psychiatrist.
However, it seems like it's impossible to talk to her.
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Teman-teman, sedikit konteks. Ini perkara Michelle Wibowo yang bikin bookclub ekslusif harus lulusan luar negeri. But what icked me most was the way she described herself as an intellectual. Tapi ketikannya tidak mencerminkan itu. She’s a racist, misogynist, sexist.
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Baca di sini: surabaya.kompas.com/read/202…
Presiden BEM Unair M Rizqi Senja Wirawan disebut dijemput Polda Jatim di rumahnya setelah diduga terkait ajakan demonstrasi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Surabaya.
~IQ #BEMUnair #PoldaJatim #newsplay [20261026150244578]
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Replying to @yapping57
Disinformasi itu informasi yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah.
Ujaran kebencian itu konten yang mengkritisi kinerja pemerintah.
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Kami mengajak publik yang mengalami Pembatasan Konten oleh @kemkomdigi, untuk meminta pertanggungjawaban negara yang telah sewenang-wenang membungkam ekspresi.
Yuk, sebarkan dan ajak teman/saudara kamu yang telah menjadi korban takedown. ✊✊✊
Teman-teman, bantu pertemukan kami dengan korban takedown konten yang mau berjuang bareng.
Kita gugat Komdigi.
Kita #TakedownKomdigi
#Kamisan Melbourne. With Vedi Hadiz.
Ini ihwal sapa-menyapa ke/dari strangers masih lanjut rupanya.
Gini gini, kalau kamu nggak suka disapa strangers dan merasa terancam, ya nggak apa2 dan kamu nggak perlu meladeni. Tapi sepengalaman saya, ada juga masyarakat yang memang suka saling nyapa meski nggak saling kenal, dan they're quite nice, karena memang genuinely nyapa hi atau how are you pake senyuman tanpa ada buntut aneh2 dan (mungkin memang) nggak niat aneh2. Biasanya, ini biasanya ya, kita sendiri juga punya intuisi membedakan mana yang rese dan mana yang enggak. Tapi nggak jarang, saya juga sadarnya telat 😅
Dulu waktu masih kerja di sebuah televisi swasta di Taman Mini, saya naik bus setiap hari dari Bogor. Turun di UKI, saya lalu nyebrang pakai jembatan penyeberangan sebelum nyambung naik angkot ke Pintu Dua. Hampir selalu saya "disapa" sama pemuda2 Ambon di UKI yang pas saya lewat seringnya lagi bersihin WC umum di deket tangga penyeberangan. Mungkin karena keliatan sama-sama Ambon kali ya 😅
Awalnya kaget, tapi saya nggak sampai di titik merasa terancam. Saya pikir ya mereka sebatas bilang 'selamat pagi', ya udah saya jawab aja juga selamat pagi.
Suatu hari tas saya dibuka orang, most likely saat saya turun dari bus. Dompet dan HP saya raib. Saya duduk nggak jauh dari tangga penyeberangan sambil ngubek2 tas, udah mau nangis. Nyong2 yang biasa nyapa pas ada di sana dan nanya ada apa, saya jawab saya kecopetan. Singkat kata kemudian saya dibantuin sama dia.
Lain waktu, ini kejadiannya masih 2 bulan yang lalu, saya lagi di lift hotel sama dua orang laki2 foreigners. Salah satunya lagi ngomong di telp, sambil ngobrol, dia senyum ke saya. Saya senyum balik aja sekilas.
Tapi pas dia habis selesai telp, dia mulai ngajak ngobrol dan kerasa ngomongnya ngaco, mulai dari ngomentarin warna kulit, sampai memuji penampilan saya dgn sangat spesifik. Saya langsung nyuruh dia tutup mulut dan bilang saya nggak nyaman dengan apapun yang dia sedang coba lakukan. Dia langsung mingkem, kelihatan kaget lihat dan denger saya nyerocos galak. Saya berhitung juga sebenernya, worse comes to worst, pasti ada CCTV di lift, dia nggak akan berani ngapa2in.
Kesimpulannya apa? Mungkin nggak ada satu kesimpulan yang rigid juga. Saya cuma jadi banyak belajar, dan masih terus belajar, soal sapa-menyapa, juga nyaman nggak nyaman yang menjurus ke pelecehan ini. Banyak faktor yang memengaruhi reaksi/respon kita saat kejadian, belum lagi faktor2 yang di luar dugaan kita. Yang pasti, hati-hati ya, semua ❤️
Hellena Yoranita Souisa, PhD retweeted
Blok Masela dipegang Inpex dari Jepang (65%), Pertamina (20%), dan Petronas dari Malaysia (15%). Pagar kilangnya pun dibangun perusahaan dari luar Maluku.
Jakarta pasti dapat bagian negara dari hasil produksi. Maluku? Untuk ladang sejauh Abadi, bagian daerah tidak diatur undang-undang, dan saham 10% yang dijanjikan sejak 2015 belum juga dimiliki karena daerah-daerah di Maluku masih berebut.
Siapa yang seharusnya memegang 10% itu?


































