Jokes & original commentary . Storyteller. AI Enthusiast • Music Lover •

Out of reach
Joined February 2012
When architecture dreams of becoming the sky. 🌙✨ Amidst the glitter of a city that never sleeps, this river holds a secret: a crescent moon born of light, not of the heavens. Sometimes, magic need not be sought in distant places—it is simply waiting to be reflected.
1
1
531
When the gold of time melts into the roots of the earth. A harmony between the ticking of a clock and the breath of the forest." 💫
74
Widih retweeted
“Rakyat bayar pajak tepat waktu…” “Tapi pas butuh pelayanan?” “Jangan suruh rakyat sabar terus!”
1
2
470
Widih retweeted
Stay'n the Moment ☺️
“Rakyat bayar pajak tepat waktu…” “Tapi pas butuh pelayanan?” “Jangan suruh rakyat sabar terus!”
3
181
171
793
Widih retweeted
very very satisfying 😍
Enough is not a number. It’s a feeling. 🤍
315
121
283
1,337
Widih retweeted
Enough is not a number. It’s a feeling. 🤍
1
2
904
Enough is not a number. It’s a feeling. 🤍
🤖 Made with AI
50
32
1
55
3,585
"TURN BACK," they said. But it’s already too late. Something is watching me from the shadows... 🥺🌕
1
448
Today I am happy
673
Widih retweeted
very satisfying
Some fights are silent. That doesn’t make them smaller. 🌑
1
2
930
Widih retweeted
kalian bilangnya rujak bebeg atau rujak bebek 🤭
1
3
419
Some fights are silent. That doesn’t make them smaller. 🌑
🤖 Made with AI
1
2
1,152
Widih retweeted
Enjoy the moment satisfying
Kadang, yang membuat seorang menantu menangis bukan beratnya merawat ibu mertua, melainkan ketika semua pengorbanannya dianggap kewajiban dan kelelahan sedikit saja dianggap sebagai kesalahan. Menurut kalian, merawat orang tua yang sedang sakit seharusnya menjadi tanggung jawab siapa? Apakah menantu wajib menanggung semuanya, atau anak-anak kandung harus ikut bergantian? *Cerita fiksi untuk diskusi dan refleksi bersama.* “AKU MERAWAT IBU MERTUAKU SAAT SAKIT, TAPI AKU JUSTRU DIANGGAP MENANTU YANG TIDAK TAHU DIRI” Aku pernah berpikir, kalau kita berbuat baik dengan tulus, suatu hari orang akan mengerti. Ternyata, aku salah. Sejak ibu mertuaku jatuh sakit, akulah yang paling sering menemaninya. Memandikannya, menyiapkan makanan, mengantar kontrol, sampai terbangun tengah malam ketika beliau membutuhkan sesuatu. Suamiku bekerja dari pagi hingga sore. Kakak dan adik iparku juga punya kesibukan masing-masing. Jadi, hampir semua urusan ibu mertua jatuh ke tanganku. Awalnya aku tidak keberatan. Bagaimanapun, beliau adalah ibu dari suamiku. Aku ingin membantu sebisaku. Namun, semakin lama, aku mulai kelelahan. Aku masih harus mengurus rumah, memasak, mencuci, dan mengurus anakku sendiri. Kadang, aku bahkan belum sempat makan ketika ibu mertua sudah memanggil dari kamar. Aku tidak pernah meminta bayaran. Aku hanya berharap sesekali ada yang bertanya, “Kamu capek, ya? Mau istirahat dulu?” Sayangnya, kalimat sederhana itu tidak pernah kudengar. Yang kudengar justru keluhan. Suatu hari, aku terlambat membawakan makanan karena anakku demam dan terus menangis. Ibu mertuaku langsung berkata, “Kalau mengurus orang tua saja tidak becus, buat apa jadi menantu?” Aku terdiam. Padahal, malam sebelumnya aku hampir tidak tidur karena bergantian menjaga anak dan beliau. Aku menahan air mata, lalu kembali mengurus semuanya. Sampai suatu sore, kakak iparku datang berkunjung. Dia melihat ibunya sedang berbaring dan aku baru selesai membersihkan kamar mandi. Dengan nada sinis, dia berkata, “Kamu tinggal di rumah ini juga menikmati fasilitasnya. Masa mengurus Ibu saja mengeluh?” Aku menatapnya lama. Selama ini, dia datang sesekali membawa buah tangan, lalu pulang setelah beberapa jam. Sementara aku yang menjalani hari-hari melelahkan itu, justru dianggap tidak tahu diri hanya karena sesekali terlihat kelelahan. Hari itu, aku tidak membantah. Aku hanya masuk kamar dan menangis diam-diam. Bukan karena aku tidak mau merawat ibu mertua. Aku hanya mulai menyadari bahwa kebaikan yang dilakukan terus-menerus terkadang dianggap sebagai kewajiban. Begitu kita terlihat lelah sedikit saja, semua kebaikan sebelumnya seperti tidak pernah ada. Beberapa hari kemudian, aku jatuh sakit. Badanku demam tinggi, dan dokter memintaku beristirahat. Untuk pertama kalinya, aku meminta suamiku mengatur agar saudara-saudaranya bergantian menjaga ibunya. Namun, respons yang kudapat justru membuatku semakin sedih. “Ibu sudah tua. Masa kamu tega membiarkan beliau begitu saja?” Aku memandang suamiku dengan mata berkaca-kaca. Lalu aku menjawab pelan, “Aku tidak pernah tega meninggalkan ibumu. Tapi kenapa kalian semua tega membiarkan aku kelelahan sendirian?” Suamiku terdiam. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung bangkit ketika ibu mertuaku memanggil. Bukan karena aku ingin membalas dendam. Aku hanya ingin mereka mengerti bahwa aku juga manusia. Aku juga bisa sakit. Aku juga membutuhkan istirahat. Sebab menjadi menantu bukan berarti harus mengorbankan diri sampai tidak punya kesempatan untuk menjaga kesehatan sendiri. Sekarang aku ingin bertanya… Kalau kalian berada di posisiku, apakah aku salah meminta saudara-saudara suamiku ikut merawat ibu mereka sendiri? Atau seorang menantu memang seharusnya menerima semua tanggung jawab itu tanpa mengeluh?
2
9
14,695
Widih retweeted
an incredibly satisfying factory job
Looking after a toddler really takes some extra energy! 🤣
1
2
1,156
Just browsing, but I might find something cute. 🛍️
🤖 Made with AI
1
335
Who’s active and supporting today?
1
1
2
698
Gada yang salah dari ini, toh itu keluar dr perut, tergantung nanti bagaimana para orang tua menjelaskan nya Itung itung memberi tahu anak anak bagaimana proses kehamilan dan membesarkannya nanti Oia bukan cuma ke anak cewek,tp anak cowok juga harus tau hal ini agar nanti lebih menghargai dan memperlakukan seorang ibu dengan baik.
So y’ll buy this for your kids ? No sane parent will get this for their girl child 💔💔
1
4
1,287
Widih retweeted
It’s very satisfying to look at this kinetic sand. love
kalian bilangnya rujak bebeg atau rujak bebek 🤭
1
3
753
Widih retweeted
A little coffee break to start my day. ☕
1
2
1,896