Gin retweeted
Shut the fuck up you subhuman japanese hikkikomori failed society low birth rate pedophile loving used underwear sniffing child p*rn producing bangladeshi importing small dick hairy vagina motherfuckers
Gin retweeted
Replying to @Isr_KK
Sesimpel "Anjir lah, lu gw pilih kok malah bikin hidup gw lebih susah dr sebelumnya" gitu aja orang indo gak masuk ke pikiran.
Gin retweeted
Suamiku resign karna trauma sampe didiagnosa PTSD. Lanjut kerja tapi kena mental. Dia resign dan aku support.
Berbulan-bulan gak kerja demi mental yg sehat, aku full support.
Mental sakit tuh ngeri.
Meanwhile mom
"Ma saya mau ke [insert entah mana saja]"
"Iya hati-hati nak, yg penting kamu pulang tidak MATI dan tidak CACAT"
🙂🙃😇🙃😂😂😂
Thats my dad
"Pa saya pamit mau kerja ke HUTAN"
"Oke hati2"
"Pa saya mau MAIN ke [insert town di JAWA"
"NANTI KAMU BISA TERSESAT DAN DICULIK ORANG, ORGANMU DIJUAL TRUS NGUBURINNYA NANTI GIMANA"
Hwaatttttt 🥲
mungkin karena orang tuanya punya rasa khawatir yang terlalu besar sampe akhirnya sulit membedakan antara melindungi anak dan membatasi ruang gerak anak. mamaku juga gini. bahkan kuliah di luar kota pun ga boleh karena dia merasa ga sanggup nahan rasa khawatirnya. prinsipnya, lebih baik ga melakukan sesuatu daripada harus menghadapi risiko. padahal, semua hal di hidup ini pastinya punya risiko.
akhirnya, aku tumbuh dengan pola pikir seperti itu. terbiasa ga ke mana-mana, betah sendirian di kamar, dan akhirnya kurang bersosialisasi. dari kecil selalu dibiasain denger, "kalo ga penting, ga usah. daripada nanti ini, daripada nanti itu." lama-lama, semua hal jadi terlihat ga penting karena selalu dibandingkan dengan risiko yang dia bayangkan, mulai dari kecelakaan sampai kemungkinan ketemu orang jahat yang taruhannya kehormatan dan keselamatan.
bahkan, dulu kalo ada kerja kelompok, aku lebih milih nego ke temen biar aku bisa ngerjain dari rumah daripada ikut kumpul karena pasti izinnya bakal susah banget. kedengeran kek bentuk kasih sayang dan perlindungan yang sangat besar, tapi dampaknya cukup fatal.
sekarang aku merasa kemampuan sosial dan komunikasiku kurang, sulit keluar dari zona nyaman, dan ga terbiasa mencari solusi ketika menghadapi masalah karena dibesarkan dengan cara menghindar terus. ga disiapkan untuk lebih hati-hati dan mampu beradaptasi sama tempat yang baru/jauh. hidup penuh ketakutan dan kekhawatiran dan akhirnya ga mencoba apa-apa karena bayang-bayang risikonya. aku juga merasa cara pandangku terhadap banyak hal jadi lebih terbatas dibanding anak-anak yang punya lebih banyak kesempatan untuk keluar dan bersosialisasi. harus belajar dari 0 juga hal-hal yang anak lain dah terbiasa sedangkan aku engga karena terbiasa dikurung.
menurutku, mempertimbangkan risiko itu penting, tapi bukan berarti setiap risiko bikin kita berhenti melangkah. apalagi kalau anaknya udah dewasa, punya uang sendiri, dan bisa bertanggung jawab sama pilihannya. kalau semua hal dihindari cuma karena ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi, kapan kita bisa belajar mandiri dan berkembang? harus belajar percaya juga sama anak.
dan yang terpenting.. jangan sampe jadi orang tua yang bikin anaknya menyesal karena dibesarkan dengan cara tertentu yang nantinya menyusahkan anak juga pas udah dewasa. jujur sangat menyesal dibesarkan dengan pola pikir seperti itu, terutama karena kekhawatiran mamaku ga disampaikan dengan cara yang baik. dia lebih sering panik dan marah daripada ngasih pengertian. cuma ngelarang, tapi ga pernah ada keinginan menemani buat melindungi. jadi, setiap kali mau minta izin, rasanya ada taruhan mental juga. baru tiga kata keluar, udah disemprot duluan.
sekarang udah lulus, malah jadi luntang-lantung dan nyesel ga ngelakuin banyak hal dan belajar di luar. dan sekarang, setelah fokus mamaku pindah ke ade adeku, baru deh dipertanyakan kenapa aku gamau keluar. ya gimana ya.. aku ga kenal dengan baik tempat di daerah sendiri, aku ga ngerasain serunya berada di luar tanpa takut dimarahin, aku terbiasa apa-apa di rumah, di kamar. mau keluar rasanya berat banget. giliran ada event yang mengharuskan aku keluar dan aku gamau, baru deh mamaku protes kenapa aku ga normal dan ga seperti anak lain yang ceria excited keluar rumah :[
Gin retweeted
Dongker dilarang manggung karena dianggap terlalu lantang mengkritik?
Setelah ini, bisa jadi band atau musisi yang lain, bisa jadi seniman yang lain.
Gin retweeted
Replying to @geprekhermanos
Intel bingung, Ganjar pindah dari belanda ke kanada kurang dari 10 detik
Gin retweeted
When Danzo was still young and a good man vs. the day jealousy consumed him and turned into hatred.
Lesson to learn: Never be jealous when your bro is winning in life.
Gin retweeted
Janggal ini.
Gaji 3 digit tiap bulan di 2010an, udah belasan tahun jg.
Tabungan pun udah MM-an.
Bokap resign mau menikmati hidup.
Terus tba² dijulidin anak sndiri n nyokapnya kerja keras banting tulang ?
Gaya hidup kelen ini cem mana sbnrnya hariannya ? 🤨
Gin retweeted
imam darto & oki rengga : batu apung
naykilla : tetep cantik kok
damnnnnn
Brarti goals mreka tercapai, mau bawa Dongker ke pasar lebih luas (seperti saya)
musiknya enak2, album2 Melankolia Radikal, Ceriwis Necis, I dont know i dongker.
Plus klo suka konseran, skali2 loncat dan sing along di "Lautan Bunga Berwarna Terang" Patut dicoba.🔥
‘Disarankan di Bandung’ by Dongker & Jason Ranti wins the #AMIAwards for Duo/Grup/Kolaborasi Alternatif Terbaik.


































