Achmal Galbin retweeted
Yang diperlihatkan suporter belakangan ini buah dr kerja panjang yg gak setahun dua tahun. Masih banyak PR, banyak banget, tapi kemungkinan itu mulai tampak hasilnya. Kerja-kerja pengorganisiran yg dilakukan banyak orang. Beberapa sudah "pensiun", tapi generasi baru terus tumbuh.
Achmal Galbin retweeted
“Polisi kok malah ngelindungi ormas?”
FIRST BLOOD
“Koe sakmono akehe gaiso berantas klitih yo ngopo? Malah meneng wae, giliran demo ngene lagi metu kabeh”
DOUBLE KILL
WAH SAMPEYAN JUARA MAS!
Sudah mewakili banyak uneg uneg warga jogja.
Achmal Galbin retweeted
Dengan menyebut namaMu yang Maha Pengasih, Maha Pelindung, dan Maha Adil.
Berkatilah langkah kami hari ini🟢🔵🔴
Achmal Galbin retweeted
Dalam 2 hari ini makin banyak konten2 atau akun2 yg mau mendepolitisasi suporter.
NB: Depolitisasi = menjauhkan suporter dari kesadaran bahwa suporter juga warga negara yg berhak bersuara/bersikap.
You’re unable to view this Post because this account owner limits who can view their Posts. Learn more
Achmal Galbin retweeted
saya tidak membawa sajam, tidak juga membawa petasan.
kenapa dengan bendera palestine saja kalian begitu represif?
bukankah di alinea pertama disebutkan bawha “kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.”
#freepalestine🇵🇸
don’t stop talking about palestine.
Achmal Galbin retweeted
Duka mendalam atas berpulangnya saudara kita.
Novandika Dwi Adi, Fakhri Maulana Al-Zaki, Iyan Fathur Ar-Rozaq, dan Rio Rahman Sahid.
Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
REST IN PRIDE🕊️
Achmal Galbin retweeted
Memposisikan sepakbola dalam hidup saya cukup sebatas hiburan dan komedi saja, ga usah terlalu jadi pemuja fanatik atau ndakik-ndakik ngising beling adalah kunci hidup tenang.
Achmal Galbin retweeted
Sepakbola itu sebenarnya adalah yang tidak penting.
Tapi dari semua hal yang tidak penting di dunia ini, yang paling penting itu sepakbola.
lek malang iku opo? @ngobongban
Achmal Galbin retweeted
Membenci Timnas ini bukan karena tentang Kanjuruhan saja, hal berbau nasionalis tidak pernah linier dengan humanisme, terpelihara dalam kebodohan tanpa kesadaran kolektif dan dengan gampangnya ditipu gairah semu bernama Timnas.
Nasionalis adalah fasis, titik tanpa nilai tawar.








































