Ahmad Nurcholis (@iceng__) header
Ahmad Nurcholis (@iceng__) profile picture

Detik ini kita berpuisi, lusa kita bercerita, sampai saatnya kita mati bersama kata-kata

Indonesia
Joined November 2011
Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)Photo by Ahmad Nurcholis (@iceng__)
Ahmad Nurcholis retweeted
Lagi cari-cari referensi gambar Pram dan terhenti di satu gambar dari salah satu artikelnya Kompas. Beruntung sekali melihat para pembaca ini masih berkesempatan ikut di acara yang dihadiri Eyang Pram sekaligus minta tanda tangan, yang kelak langka dan punya daya jual luar biasa.
1
13
119
1,997
Ahmad Nurcholis retweeted
download esai "pki stroganoff" henri chambert loir yg membongkar wacana khas orba di balik novel pulang leila chudori. she reprised the same pattern in laut bercerita limewire.com/d/RtjuS#mvdGNAY…
8
174
2
575
9,176
Ahmad Nurcholis retweeted
kita semua adalah tokoh utama di hidup kita masing-masing🥹
62
2,815
53
9,519
212,991
Ahmad Nurcholis retweeted
HATTA DAN PENYEBUTAN PUITIS UNTUK NEGARA Salah satu yang menarik dari tulisan Mohammad Hatta di Foreign Affairs ini adalah penggunaan kata ganti ketiga "she atau her" untuk negara Indonesia. Rupanya di masa itu, negara digambarkan sebagai sosok feminin. Sekarang kata ganti "she/her" untuk negara sudah mulai ditanggalkan dan diganti dengan "it" atau "they." Saya lebih setuju penggunaan kata "she/her" itu untuk negara. Terasa lebih puitis. Mohammad Hatta adalah salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno. Hatta adalah Wakil Presiden Republik Indonesia pertama, menjabat dari 1945 sampai 1949, lalu 1950 sampai 1956. Juga menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri dari 1949 sampai 1950. Beliau dan para pemimpin politik kala ini adalah intelektual yang menulis. Tulisan Hatta di atas itu terbit di Foreign Affairs (1958) dengan judul Indonesia Between the Power Blocs. Keren betul.
1
23
2
87
2,794
Chinese and Indonesian soldiers are training together in Guangdong right now. Western media won't show you this one. "Sharp Knife 2026", the China-Indonesia joint army counter-terrorism training, opened on Tuesday and runs until early November. The programme : > reconnaissance, sniping, unmanned systems > counter-terrorism rescue in mountain terrain > helicopter rappelling, close-range assault > manned and unmanned systems working together It's the third edition of the series. No "deterrence". No island chains. No talk of who the enemy is. Just two militaries training against terrorism. Compare that to what Washington ran in Cebu this week. My take : Indonesia trains with everyone and joins no bloc. That's what real non-alignment looks like, and it's exactly why the US keeps trying to pull Jakarta closer.
9
92
7
534
15,457
Ahmad Nurcholis retweeted
🇮🇩🇮🇳 On the same day, the Indonesian and Indian Armies commenced Exercise #GarudaShakti in East Java 📸Kostrad
🇮🇩🇨🇳 Indonesia and China kicked off #SharpKnife joint army counter-terrorism exercise in Guangdong, China (27/10). FPV drones were also displayed at the opening ceremony 📹 CCTV
8
26
2
281
14,484
Ahmad Nurcholis retweeted
🇮🇩🇨🇳 Indonesia and China kicked off #SharpKnife joint army counter-terrorism exercise in Guangdong, China (27/10). FPV drones were also displayed at the opening ceremony 📹 CCTV
2
71
3
479
32,029
Ahmad Nurcholis retweeted
💢RAHASIA BESAR TEMBOK CINA DI BANGUN..‼️ BISA DI BILANG TEMBOK PERTAHANAN SUPER CERDAS YANG GAK PERNAH KAMU BAYANGKAN. SETIAP BANGUNAN PUNYA FUNGSI MASING MASING
7
643
5
6,288
510,196
Ahmad Nurcholis retweeted
Animal farm in two minutes
57
1,334
112
3,529
151,716
Ahmad Nurcholis retweeted
They made school so hard when this sh*t was so simple 🚮 🥹
Readers added context they thought people might want to know
This method will only work for these numbers and very few others. Its success rate is not 90% as the original poster claims in the replies. youtube.com/watch?v=AEgGfp…
501
2,409
166
14,313
1,826,866
1997’de Çin’in büyük bir derdi vardı. Ülkede metro ve demiryolu projeleri hızlanıyordu ama doğru düzgün tünel açma makinesi yoktu. Aradılar, taradılar, sonunda Almanya’da iki tane buldular. Makineler ikinci eldi. Almanlar iki makine için 700 milyon yuan istedi. Çinlilerin pek pazarlık yapacak hâli de yoktu. Parayı verip iki makineyi aldılar ve ülkeye getirdiler. Ama mesele makineyi satın almakla bitmedi. Kurulum için Alman mühendislerin de Çin’e gelmesi gerekiyordu. Gönderilen her Alman mühendis için günlük 800 avro ücret istendi. O dönem sıradan bir Çinli işçi yılda 4.000 yuan bile kazanamıyordu. Yani Alman mühendis Çin’e geliyor, bir günde Çinli işçinin neredeyse bir yılda kazandığının iki katını cebine koyuyordu. Çinlilerin canını sıkan asıl mesele 700 milyon yuan değildi. Makine senin değil. Teknoloji senin değil. Bir şey bozuluyor, Alman’ı çağırıyorsun. Parça lazım oluyor, Alman’dan alıyorsun. Adam fiyatı ne derse onu ödüyorsun. Çin bu faturayı unutmadı. 2002’de mühendisleri masaya oturtup sıfırdan kendi tünel açma makinesini geliştirmeye başladı. Kolay iş değildi. Bir makinede 30.000’den fazla hassas parça vardı. Kesici kafası ayrı dert, hidrolik sistemi ayrı dert, kontrol sistemi ayrı dert. 6 yıl uğraştılar. 2008’de ilk tamamen Çin yapımı tünel açma makinesi ortaya çıktı. Ama Çinliler için asıl mesele makineyi yapmak değildi. Almanlarla aynı işi yapıp yapamayacağını görmekti. 2012’de kendi makinelerini dünyanın en iyi üreticilerinin makineleriyle aynı projelerde yan yana çalıştırdılar. Sonuç? Çin makinesi geri kalmadı. Sonra Çin’in klasik hikayesi başladı. Önce kendine yaptı. Sonra seri üretime geçti. Maliyeti düşürdü. Sonra dünyaya satmaya başladı. Bugün dünyada kullanılan tünel açma makinelerinin yaklaşık %70’ini Çin üretiyor. 25 yıl önce Almanya’dan ikinci el iki makine bulabilmek için 700 milyon yuan veren ülke, bugün dünyanın en fazla tünel açma makinesi üreten ülke konumunda. Aslında Çin’in elektrikli otomobilde, bataryada, dronda ve şimdi insansı robotlarda yaptığı şey de bundan çok farklı değil. Önce dışarıdan alıyorlar. Sonra nasıl yapıldığını öğreniyorlar. Ardından kendileri üretiyorlar. En sonunda da senden daha ucuza sana satıyorlar. Zamanında Almanlar kurulum için Çin’e gidiyordu. Şimdi Çinliler kurulum için Almanya’ya gidiyor. Çin’de yapamıyoruz, üretemiyoruz, zor diye bir şey yok. Çin Devleti sizden bir makine geliştirmenizi istiyorsa yapmaktan başka çareniz yok. Aslında Çin’in sanayi politikasını yüzlerce sayfalık raporlarla anlatmaya gerek yok. İki tane ikinci el Alman makinesi bütün hikayeyi anlatıyor.
770
3,900
251
26,660
2,870,732
Kurang lebih selama seminggu saya menjadi bagian delegasi alumni China yang melakukan kunjungan kebudayaan dan akademik di Kota Beijing dan Chongqing. Yang berkesan dari perjalanan ini tentu bukan sekadar kerinduan saya yang terbayar, sebab dapat mengunjungi kembali negara ini.
1
61
Sejarah penting dalam memupuk dan memelihara nasionalisme cinta tanah air sementara ilmu pengetahuan menjadi basis kebijakan untuk menanggulangi berbagai persoalan masyarakat lewat riset dan inovasi terus menerus. Salut!
1
14
Dan bertemu @SpoxCHN_MaoNing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, serta menyerahkan buku yang kami tulis tentang dinamika hubungan Indonesia-China. Berikut tulisan saya mengenai perjalanan ini yang terbit di @cnbcindonesia cnbcindonesia.com/opini/2026…
10
China is WINNING
China can have railway stations like this because it doesn't focus on endless regime-change wars
57
799
9
6,526
126,685
Ahmad Nurcholis retweeted
Glad to meet with Indonesian scholars and receive books on their experiences in China and China-Indonesia relations.
53
66
8
328
14,409
Ahmad Nurcholis retweeted
ANJ… WKWKWKKWKWKWWKWKWK
67
298
33
2,005
174,525
Ahmad Nurcholis retweeted
Tadi malam, ketika melihat Indonesia untuk pertama kalinya mengangkat trofi ASEAN Cup di Gelora Bung Karno, saya berpikir bahwa sepak bola sedang mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh melampaui lapangan: apa artinya menjadi bagian dari sebuah bangsa? Sebagian besar pemain dalam tim nasional ini lahir di luar Indonesia. Bahkan, pada suatu titik, kesebelas pemain di lapangan semuanya lahir di luar kepulauan Indonesia. Sebagian adalah anak atau cucu orang Indonesia yang tumbuh di negara lain. Hal ini membuka perdebatan yang sangat kami kenal di Meksiko: apakah keturunan saja sudah cukup? Apa peran budaya, bahasa, pengalaman hidup, dan ikatan emosional dengan sebuah negara? Meksiko secara aktif mencari talenta-talenta muda keturunan Meksiko yang lahir di Amerika Serikat. Banyak dari mereka tumbuh di antara dua budaya dan dapat merasa sepenuhnya Meksiko sekaligus Amerika. Hukum kami memungkinkan kedua kewarganegaraan tersebut; Indonesia menghadapi realitas hukum yang berbeda. Mungkin karena itu, percakapan ini terasa begitu universal bagi saya. Bangsa-bangsa di abad ke-21 tidak lagi dapat dibatasi oleh garis perbatasan. Migrasi telah membuat jutaan orang memiliki lebih dari satu rumah, lebih dari satu bahasa, lebih dari satu ingatan, dan terkadang lebih dari satu cara untuk merasa menjadi bagian dari sebuah negara. Sepak bola membuat semua ini terlihat dengan cara yang luar biasa emosional. Ketika seorang pemain yang lahir jauh dari tanah leluhurnya menyanyikan lagu kebangsaan dan mengenakan jersey negara orang tua atau kakeknya, belum tentu ia sedang memilih antara dua identitas. Bisa jadi, ia sedang menemukan bahwa keduanya adalah bagian dari dirinya. ….. Anoche, viendo a Indonesia levantar por primera vez la Copa ASEAN de la FIFA orgullosamente en el Gelora Bung Karno, pensaba que el fútbol les puso a los amigos indonesios una pregunta que trasciende el fútbol ¿qué significa pertenecer a una nación o a un país o a una selección? Una parte importante de este equipo que ganó anoche nació fuera de Indonesia, en algún momento los 11 jugadores en la cancha no habían nacido en el archipiélago. Algunos son hijos o nietos de indonesios que crecieron en países europeos y eso ha provocado una gran polémica ¿basta con tener ascendencia? ¿qué papel juegan la cultura, el idioma, la experiencia de vida y el vínculo emocional con el país? ¿en qué momento alguien deja de ser “diaspora” para convertirse simplemente en “indonesio”?. Me resulta imposible mirar esta discusión sin pensar lo que hemos ya discutido en México. México busca activamente a jóvenes de origen mexicano nacidos en Estados Unidos. Muchos crecieron entre dos culturas y pueden sentirse (o no) plenamente mexicanos y estadounidenses al mismo tiempo. Nuestra legislación permite esa doble pertenencia, Indonesia enfrenta una realidad jurídica distinta, o acepta doble nacionalidad. Quizá por eso el debate me parece tan universal. Creo que las naciones del siglo XXI ya no caben dentro de sus fronteras. La migración ha generado que millones de personas puedan tener más de una casa, más de un idioma, más de una memoria y, a veces, más de una manera de sentirse parte de un país. El fútbol simplemente hace visible esa conversación de una manera extraordinariamente emocional. Cuando un país decide abrir lugar a esos jugadores, también está decidiendo algo sobre sí mismo: quiénes somos y a quiénes consideramos nuestros.
CHAMPIOOOOOONSS!! ⚽️🏆🇮🇩
41
349
31
1,208
66,674