Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
The secret to perfectly metal joints
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya.
Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis.
Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri.
Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas.
Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
jemma retweeted
Fun play with best friends
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Briliant idea to peeling the apple skin easier than before
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
jemma retweeted
You can feel it
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
jemma retweeted
Лучший способ нарезать киви.
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
jemma retweeted
Hamood habibi chase
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
This is really smart idea
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun.
Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas.
Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan.
Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus.
Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
jemma retweeted
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
My mother will be really mad when she watch this fr 🥲🫠
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
jemma retweeted
Time will heals everyting right
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
Smart ways to peeling corn
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
jemma retweeted
The happy potato
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
jemma retweeted
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
jemma retweeted
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
Why this is so satisfying OMG 😭😍
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh.
Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya.
Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita.
Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur.
Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.










