jemma (@ipnfinity) header
jemma (@ipnfinity) profile picture

are you happy with me || support & follow me ♥️

California, USA
Joined May 2016
Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)Photo by jemma (@ipnfinity)
jemma retweeted
Ada orang yang pernah menyakitimu, lalu waktu kamu terlihat sedih, marah, atau menjauh, dia malah bilang, "kok kamu jadi aneh sih?" atau "aku nggak ngapa-ngapain, kamu aja yang baper." Seolah-olah reaksimu yang jadi sumber masalahnya, bukan perbuatannya. Padahal reaksi itu hanya akibat. Kalau seseorang terluka, wajar dia menangis, kecewa, atau berubah sikap. Itu cara manusia merespons rasa sakit. Menyalahkan orang yang terluka karena reaksinya sama saja dengan memukul seseorang lalu protes kenapa dia meringis. Menyakiti orang lain memang bisa terjadi, entah sengaja atau nggak. Manusia bisa khilaf. Tapi setelah itu ada pilihan: mengakui dan memperbaiki, atau memutarbalikkan keadaan supaya dirinya tetap kelihatan benar. Pilihan kedua inilah yang manipulatif, karena yang dipakai bukan kejujuran, tapi cara membuat orang lain meragukan perasaannya sendiri. Yang paling berbahaya dari pola begini, korbannya pelan-pelan percaya bahwa dirinya memang bermasalah. Mulai berpikir, "mungkin aku yang terlalu sensitif," padahal rasa sakitnya nyata dan punya sebab yang jelas. Jadi kalau kamu pernah ada di posisi itu, ingat bahwa perasaanmu valid. Nggak apa-apa terluka, nggak apa-apa bereaksi. Dan kalau suatu hari kamu yang menyakiti orang lain, jangan balik menyalahkan mereka. Cukup akui, minta maaf, dan belajar dari situ. Itu yang namanya adab.
7
11
40,102
jemma retweeted
Fun play with best friends
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
92
110
1
1,576
165,048
jemma retweeted
You can feel it
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
7
7
482
jemma retweeted
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
9
10
523
Лучший способ нарезать киви.
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
8
9
456
jemma retweeted
Hamood habibi chase
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
9
11
359
jemma retweeted
Selama hidup, penilaian orang akan selalu ada. Kita bangun pagi dibilang kurang kerjaan, kita santai dibilang malas, kita sukses dibilang beruntung, kita gagal dibilang salah sendiri. Apa pun yang kita pilih, selalu ada saja yang punya komentar. Dan itu nggak akan pernah habis, sampai kapan pun. Kalau semua penilaian itu kita masukkan ke hati, kepala bakal penuh dan langkah jadi berat. Kita jadi ragu sebelum bertindak, takut salah di mata orang, dan akhirnya hidup bukan buat diri sendiri lagi, tapi buat memuaskan pandangan orang lain. Capeknya nggak kira-kira, apalagi yang dituruti itu nggak akan pernah merasa puas. Makanya belajar bodo amat itu penting. Bukan berarti jadi cuek sama semua hal atau nggak mau mendengar masukan. Bodo amat di sini artinya tahu mana yang layak dipikirkan dan mana yang cukup lewat saja. Kritik yang membangun diambil, omongan yang cuma menjatuhkan dilepas. Sesederhana itu, tapi butuh latihan. Dengan begitu, kita jadi lebih waras menjalani hidup. Tidur lebih tenang, keputusan lebih mantap, dan hati nggak gampang goyah tiap ada yang nyinyir. Kita bisa fokus pada hal-hal yang memang penting: tumbuh, memperbaiki diri, dan menjaga orang-orang yang tulus. Jadi biarkan orang menilai sesukanya. Toh yang menjalani hidupmu itu kamu, bukan mereka. Selama kamu nggak merugikan siapa pun dan masih sejalan dengan hati nuranimu, lanjutkan saja dengan tenang.
37
22
8
55
255,617
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
9
11
2,219
jemma retweeted
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
9
10
604
Time will heals everyting right
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
7
9
383
jemma retweeted
Dude you should be rlly kidding me rn, but the coverage pretty good tho
377
317
636
221,661
The happy potato
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
9
9,245
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
9
415
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
1
9
441
jemma retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
7
9
423
jemma retweeted
Ada orang yang kalau salah, nggak pernah benar-benar bilang "iya, itu salahku." Ceritanya diputar pelan-pelan. Bagian yang bikin dia kelihatan buruk dihilangkan, bagian yang bikin dia kelihatan terluka dibesar-besarkan. Ujung-ujungnya, dia yang tampil sebagai korban.
10
25
616
jemma retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
7
11
557
jemma retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
418
316
436
21,400
jemma retweeted
What normal person would even think to stick a glass in their mouth until it gets stuck like this? My advice is to stop doing stupid things that could end up hurting yourself faggot
口に密着したコップが吸いついて抜けなくなる現象がSNSで話題に。内部の気圧が下がり密閉されることで力任せでは外れなくなる。 空気を入れる隙間を作ったり端を少し変形させる解決策。子どもの頃に誰もが経験した失敗や対処法について、あなたはどう思いますか?
3
5
3
9
4,809
jemma retweeted
Maybe you haven’t gotten everything you hoped for yet. Maybe there are still a lot of things that make you feel behind. But honestly, you’ve already come so damn far. Give yourself some credit. Now get back up and keep going with this boring ass life of ours LOL
115
66
108
503